Thursday, July 1, 2010

Kode Pos Indosesia

Filled under:

Terkadang ketika mengirim barang atau surat agar lebih cepat kita menggunakan kode pos. Kode pos dibuat oleh PT Pos Indonesia untuk mempermudah penyortiran surat atau barang agar lebih cepat dalam pengirimannya. Kode pos Indonesia terdiri dari 5 digit angka dulu menentukan letak propinsi, kabupaten/kota, kecamatan, desa, dusun, jalan.

Dahulu untuk mencari kode pos, kita harus datang ke kantor pos lalu tanya ke petugas pos atau membolak-balik buku kode pos se-Indonesia yang sangat tebal. Sekarang jamannya internet, mulai beberapa tahun lalu pencarian kode pos bisa dicari di pencarian kode pos nasional PT Pos. Jadi tinggal ketik alamat, jalan atau desa dan kota langsung nongol kode posnya. Tidak perlu datang ke kantor yang jelas kalau malam hari kantor pos tutup, serta membolak-balik buku kode pos se-Indonesia yang sangat tebal.

Posted By Online Business 6:40 PM

Friday, March 19, 2010

Simpus Ver 1.0

Filled under:

Simpus (Sistem Iformasi Manajemen Puskesmas)

SIMPUS merupakan program aplikasi komputer yang dikembangkan untuk memenuhi kebutuhan puskesmas dalam hal data dan informasi seperti register pasien, register penyakit, laporan kunjungan, laporan penyakit, laporan obat, dan sebagainya. Program ini dirancang untuk memudahkan puskesmas dalam pengelolaan data dan informasi dengan input seminim mungkin dan output semaksimal mungkin.

Petunjuk Teknis Instalasi dan Operasi atau Manual SIMPUS Versi 1.00 (Sistem Informasi Manajemen Puskesmas) ini merupakan petunjuk teknis bagi administrator atau operator SIMPUS dalam menyiapkan dan melaksanakan instalasi serta setting pertama kali Software SIMPUS v1.00 di puskesmas yang akan menerapkan SIMPUS versi 1.00 ini. Manual SIMPUS ini juga merupakan panduan teknis bagi user atau pengguna SIMPUS (dokter, bidan,perawat, staff puskesmas, staff dinas kesehatan) dalam mengoperasikan atau menggunakan SIMPUS yang telah selesai di-install oleh administrator/operator SIMPUS. Buku ini disertai dengan CD Software SIMPUS v1.00.

SIMPUS v1.00 dikembangkan oleh LGSP East Java Regional Office bersama service provider Ngatmari, ST. SIMPUS versi 1.00 ini dibangun menggunakan basic software Visual Basic 6 dan MySQL. Riwayat SIMPUS ini bermula dari Simpus yang berasal dari Kabupaten Ngawi (Simpus Ngawi 2006) yang dibangun dengan basic software Microsoft Office Access XP 2003, dimana pada tahun 2007 direplikasi ke puskesmas-puskesmas di Kota Madiun. Setelah digunakan sekitar satu tahun di Kota Madiun, ternyata timbul beberapa hambatan dengan kecepatan akses data antar komputer sehingga oleh LGSP-EJRO dilakukan ”Migrasi” atau ”Convert” software sehingga menjadi SIMPUS v1.00 yang berbasis Visual Basic 6 dan MySQL, dan dikembangkan terus hingga seperti kondisi saat ini. Karena berasal dari migrasi software maka pada menu awal Simpus ada tombol menu ”Generate Data” yang berfungsi memindahkan data dari Simpus versi Microsoft Access ke Simpus versi MySQL.

Berminat Download manual ? Silahkan klik Download atau langsung menghubungi pembuat software/penulis manual ini. (Ngatmari,ST. 08179606875 / 085855844716 / 081233877890) Alamat Jl. Tlogo Indah V/30 Malang.

Posted By Online Business 1:28 AM

Sunday, May 31, 2009

Tentang Rokok

Konsumsi Rokok Indikator Kemiskinan Masyarakat Indonesia

Konsumsi rokok diyakini sebagai salah satu indikator kemiskinan masyarakat Indonesia selama ini, akibatnya perilaku tersebut tidak hanya dapat mengurangi pendapatan, belanja bulanan keluarga, hingga berujung pada kematian.

"Saya pernah menemukan kesaksian ada seorang sopir berpenghasilan Rp50 ribu sehari dengan empat anak yang kedua anaknya tidak sekolah dengan alasan biaya. Anehnya, sopir tersebut mampu menghabiskan uang Rp24 ribu per hari untuk membeli tiga pak rokok. Sementara, ia memberi uang belanja kepada istrinya sebesar Rp20 ribu sehari," kata Peneliti Lembaga Demografi Fakultas Ekonomi Universitas Indonesia, Abdillah Ahsan, di Surabaya, Kamis.

Ia mengakui, hal itu memang fenomena umum yang sering ditemui diantara masyarakat miskin di Indonesia.

"Meski sang kepala rumah tangga memiliki penghasilan terbatas, ia mengonsumsi rokok seperti layaknya kereta api," katanya.

Menurut dia, merokok berdampak pada berkurangnya pendapatan yang bisa dibelanjakan untuk kepentingan lain seperti makanan yang sehat dan layak, biaya sekolah, dan sebagainya.

"Semisal, seorang kepala keluarga mengonsumsi rokok satu pak seharga Rp5 ribu per hari. Padahal, uang yang terbakar melalui rokok tersebut bisa dibelikan tiga butir telur yang mengandung banyak gizi untuk makan seluruh anaknya," katanya.

Selain itu, kata dia, secara ilmiah terbukti bahwa merokok menimbulkan banyak masalah kesehatan dan meningkatkan biaya kesehatan yang jumlahnya bisa tiga kali lipat dari cukai rokok.

"Bahkan, lebih dari 70.000 penelitian di Amerika Serikat berhasil membuktikan bahaya merokok bagi kesehatan," katanya.

Melihat beragam kenyataan itu, ia berharap, pemerintah mengambil sikap tegas. Salah satunya dengan menaikkan harga cukai rokok, melarang secara total iklan rokok, dan memasang peringatan bergambar mengenai bahaya merokok.

"Sekarang, besaran cukai rokok rata-rata baru 38 persen. Padahal, dalam Pasal 5 UU Nomer 39 Tahun 2007, pemerintah boleh mematok cukai hingga 57 persen. Namun, besaran itu ternyata masih rendah dibandingkan patokan cukai luar negeri yang mencapai 65 persen," katanya.

Kontroversi lain, ia menjelaskan, mengenai usulan pelarangan iklan rokok secara total dengan alasan olahraga dan musik akan mati karena tidak ada sponsor. Bila dibandingkan dengan negara Thailand yang melarang total iklan rokok, apakah sepak bola Indonesia lebih baik dari Thailand karena sebagian besar masyarakatnya masih merokok.

"Meski tanpa iklan rokok, sepak bola Thailand lebih baik dari sepak bola nasional. Begitu halnya dengan musik, di luar negeri musiknya tetap hidup tanpa iklan rokok," katanya.

Ketua Bidang Penyuluhan dan Pendidikan Lembaga Menanggulangi Masalah Merokok (LM3), Fuad Baradja, menyesalkan, mengapa "political will" Indonesia lemah terhadap penanggulangan rokok. "Padahal, saat ini sudah ada sekitar 164 negara di dunia yang memiliki payung hukum terhadap hal itu," katanya.

Sependapat dengan Ahsan, aktivis yang sudah berhenti merokok sejak tahun 1991 itu, menyarankan, agar cukai rokok dinaikkan sehingga harga rokok akan terkerek naik. Melalui kenaikan cukai itu, angka perokok yang khususnya dari rumah tangga termiskin akan berkurang.

"Jika hal itu sukses, bukan tidak mungkin jumlah perokok yang berasal dari keluarga terkaya juga turun. Akibatnya, bangsa ini akan terbebas dari rokok yang jelas merugikan diri sendiri dan orang tercinta di sekitar mereka," katanya.

Kebiasaan merokok, menurut dia, memang dinilai menyenangkan oleh sebagian orang ini, tetapi justru memberi dampak negatif.

"Apalagi, terdapat sekitar 4.000 zat kimia dalam sebatang rokok yang menjadi sumber penyakit ataupun memperparah penyakit yang diderita seseorang," katanya.

Posted By Online Business 6:01 PM

HitCounter

Website counter